Seperti biasa, Minggu menjadi hari libur anak sekolah. Dan seperti
yang pernah aku katakan, setiap Minggu setidaknya harus membuat satu inovasi kecil-kecilan untuk membunuh rasa bosan yang melanda tiap akhir pekan.
Untuk edisi minggu ini, hal yang aku lakukan untuk membunuhnya adalah : Berkunjung ke 'Tana Toraja'
Tapi ini hanya 'mini' Tana Toraja. Letaknya nggak jauh dari
tempat rumahku di Bontang, hanya sekitar lima menit naik motor. Tepatnya di Kanaan Dalam, Kelurahan Gunung Telihan, Bontang.
Dimana di Kanaan Dalam mayoritas penghuninya adalah orang Tana Toraja
yang bermukim di Bontang, jadinya di Kanaan dengan mudah ditemukan
konstruksi rumah Tongkonan dan aura-aura Toraja disana.Memasuki Kampung Tator, mataku tertuju pada tiga Tongkonan yang berdiri di lapangan, tak tahu fungsinya buat apa, aku nekatkan masuk kesana, tentu saja dengan izin warga sekitar. Bersama kawan baru yang baru kukenal dan sama-sama memiliki hobi fotografi kami melangkah mantap memasuki lapangan dengan tiga Tongkonan yang mengelilinginya. Ada satu Tongkonan yang paling besar disana, aku pun naik keatasnya untuk mencari spot terbaik di tempat tersebut.
Berada diatas Tongkonan, serasa benar-benar di Tana Toraja. Tongkonan itu dipenuhi ukir-ukiran khas Toraja, yang tak kuketahui maknanya seperti apa, dan tentu saja kepala kerbau dengan tanduknya yang mengarah kebelakang menempel di tengah-tengah rumah tersebut. Dalam hati aku berdecak kagum, begitu eksotis dan kaya sekali budaya Indonesiaku. Semoga...kita dapat mempertahankannya dan tidak direbut kepemilikannya oleh bangsa lain.
Acara foto-foto pun berlangsung seru, motif-motif tribal nan etnik, bisa dijadikan spot yang unik dan super menarik, dan semakin seru dengan iringan anjing menyalak tak henti-henti melihat dua orang yang pernah aku lihat disana. Ada juga sekawanan anjing yang menghampiri kami dengan muka seram. Wow, acara hunting makin seru dan bikin berdebar-debar !
Setelah puas berfoto ria, kami menuju kuburan Toraja yang unik. Untuk kali ini kuburan buakn seperti di Tator yang asli, dimana mayat bisa berjalan sendiri. Hanya sebuah makam dengan atap berbentuk Tongkonan, dan besar-besar, ada yang sebesar kontrakan 3 tingkat mewah banget !
Sepanjang jalan di Kanaan Dalam, dengan mudahnya kita menemukan kios yang menjajakan daging babi segar dan kepala babi. Tak hanya itu, ada juga separuh tubuh babi yang telah dikuliti digantung di kiosnya. Aku pun melihatsepanjang jalan dan ingin sekali memakan daging itu, karena itu merupakan pemandangan yang tidak asing bagi ku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar